Makan di rumah sendiri? makan di warteg? nyari makanan baru di tempat baru?. Umumnya hanya dibutuhkan beberapa langkah saja untuk bisa makan. Orang yang makan di warteg dan di rumah hanya meluangkan tenaga beberapa langkah untuk bisa makan atau setidaknya beberapa kilometer saja untuk menemukan pengalaman baru dalam berburu makanan. Makan adalah kebutuhan dasar yang pada akhirnya menghasilkan energi untuk beraktifitas. Makan tidak hanya untuk sekadar kebutuhan, namun juga bisa menjadi sarana mencari suasana atau pengalaman baru seperti yang biasa diutarakan pak Bondan ---Maknyos..., Maknyos suasananya, makanannya atau yang mendampingi saat makan.
Sehari makan hanya membutuhkan langkah kecil di rumah? atau di warteg? ( Saya mengecualikan beberapa kritikus makanan yang makan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan perut). Makanan yang dimakan adalah sebagian dari rejeki yang untuk mendapatkannya dibutuhkan usaha. usaha jalan ke meja makan atau ke undangan pernikahan, membeli makanan yang dihasilkan dari usaha, atau usaha minta ditraktir, sehingga disini butuh upaya mendatangi rejeki untuk mendapatkan rejeki.
Benarkah usaha yang mendatangi rejeki?
Di piring yang mengikuti pola hidup 4 sehat 5 sempurna akan ditemui :
1. Karbohidrat ( Nasi)
2. Protein (ikan boleh, telur bisa)
3. vitamin (sayuran atau buah)
4. Mineral ( yang gampang air mineral)
5, ditambah susu.
kalau ditelusuri kelima elemen makanan sempurna ini, ada di meja hidangan menempuh jarak yang lebih jauh dari sang penyantap. Nasi dari petani di pedesaan, protein dari peternak di sebrang pulau, vitamain dari perkebunan nun jauh di mata, dan susu yang enak sih dari lembang. kalau jarak asal semua makanan dijumlah setelah melalui proses tertentu hingga akhirnya didistribusikan oleh emang sayur atau minimarket sebelah ternyata jarak yang ditempuh oleh makanan ini pastilah lebih jauh dibanding penyantap. Apalagi penyantap yang makanannya sudah disediakan dirumah sendiri yang kebetulan jualan makanan.
Kalau sudah rejeki pasti akan sampai, seperti makanan yang sampai ke meja hidangan. Padahal jarak makanan lebih jauh dari jarak yang orang yang mau makan.
Yang dibutuhkan, adalah usaha untuk mencapai rejeki, yang kalau dengan analogi perjalanan diatas usaha yang berjarak beberapa langkah bertemu dengan rejeki yang berjarak ratusan kilometer.
Jadi, rejeki didatangi dan mendatangi....
Dari : Seminar Nasional Marketing 3.0
Related Article:
0 comments:
Post a Comment